Covid-19 di Tanah Nusantara

Saya ingin sekali menorehkan sebuah tulisan. Bukan membahas apa itu Covid-19, bagaimana bisa terjadi, dan lain halnya, tidak. Saya bukan ahlinya juga.

Saya hanya ingin menulis tentang apa yang secara pribadi saya rasakan ditengah pandemik virus ini. Menjadi bukti bahwa saya pernah berada pada masa dimana perubahan sosial budaya hingga beragama akan secara radikal berubah. Mungkin tatanan dunia baru akan lahir karena virus ini.

Entah ini merupakan kesialan atau keberuntungan, menjadi saksi hidup dimana perubahan dunia akan segera dimulai. Hal yang pasti, saya harus bisa bertahan pada situasi yang sepertinya akan sulit pada bulan-bulan dan tahun tahun ke depan. Keluarga yang pastinya saya pikirkan pertama.

Berdasarkan data yang berasal dari worldmeters.info, tercatat secara global ada 1.930.272 jiwa yang terjangkit virus Covid-19. 199.815 jiwa diantaranya meninggal dunia. Sekitar 6,2%-nya virus ini memakan korban. 

Indonesia ? Hingga saat ini ada 4.839 terjangkit dan 459 diantaranya meninggal dunia atau 9,4%. 
Secara angka persentase rata-rata kematiannya memang tidak tinggi. Namun karena mudahnya virus ini menular maka ini menjadi mengerikan. Ini masih bulan April, dan tidak tahu sampai kapan virus ini akan hilang. Banyak analis mengatakan paling tidak Indonesia akan terjangkit sekitar 2,5 juta jiwa, katakan 10%-nya meninggal maka akan ada 250.000 jiwa meninggal. Sekali lagi ini sungguh mengerikan. 

Saat ini, pemerintah telah berupaya untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Keramaian dilarang, Ibadah (apapun) dari rumah, Sekolah diliburkan, Perkantoran menggunakan sistem piket atau Work From Home (WFH), restoran dibatasi tidak boleh ada lagi nongkrong, hotel banyak tutup, dan lain sebagainya. 

Sungguh ini dalam situasi yang mengerikan. Sebenarnya bukan karena virusnya juga, tapi kondisi-kondisi yang mengkhawatirkan seperti turunnya ekonomi skala nasional. Pendapatan menurun, barang pokok sulit didapatkan, dan yang paling dikhawatirkan buntut dari situasi tersebut adalah 'Chaos'. Kekacauan, Penjarahan, Pembunuhan, dan lain sebagainya. Pemerintah Indonesia saat ini sebenarnya sudah menyiapkan skema apabila hal tersebut terjadi maka akan ada 'Darurat Sipil'. Wajar karna pasti para staf ahli yang ada di Istana pun sudah memikirkan ratusan langkah didepan pemikiran orang awam. 

Saya sebagai warga negara, masyarakat kecil hanya berharap semoga wabah ini cepat berlalu. Sungguh sedih, terlebih menyambut bulan Suci Ramadhan dimana biasanya umat Islam fokus beribadah dengan berpuasa, kali ini ada yang beda. Beberapa ibadah sunnah pasti akan terganggu, 'hunting' makanan berbuka pasti akan berbeda, pasti akan lebih sepi dari biasanya. 

Sedih... 

Ya Alloh, kami bermunajat padamu.. semoga Wabah ini cepat berlalu. Negeri ini kembali aman dan terteram. Warganya kembali berbahagia dengan apapun kondisinya. Semoga apa yang dikhawatirkan terjadi kekacauan tidak terjadi. Aamiin. 

 Pangkalpinang, 14 April 2020, 16.19 WIB. 
_eSWe_

corona | covid 19 | bangka belitung | opini | harapan

Komentar

Postingan Populer